Jumat, 06 Januari 2012

Unsur Ekstrinsik Puisi


UNSUR-UNSUR EKSTRINSIK PUISI


I.          PENDAHULUAN
 Karya sastra secara umum dibedakan menjadi tiga genre: puisi, prosa, dan drama. Masing-masing kajian sastra tersebut memiliki unsur-unsur pembangun baik itu unsur intrinsik maupun unsur ekstrinsik. Dalam hal ini, sebuah karya sastra tidak mungkin tumbuh otonom, artinya selalu berhubungan secara ekstrinsik dengan luar sastra, dengan sejumlah faktor kemasyarakatan seperti tradisi sastra, kebudayaan lingkungan, pembaca sastra, serta kejiwaan mereka seperti filsafat, psikologi, religi, gagasan, pendapat, sikap, keyakinan, dan visi lain dari pengarang dalam memandang dunia.
Sehubungan dengan hal itu, sastrawan berupaya untuk menyalurkan obsesinya agar mampu dimaknai oleh pembaca. Visi dan persepsinya tentang manusia di muka bumi bisa ditangkap oleh pembaca, dan pembaca terangsang untuk tidak melakukan hal-hal yang berbau hedonis dan tidak memuaskan kebuasan hati. Persoalan amanat, tendensi, unsur edukatif dan nasihat bukanlah hal yang terlalu berlebihan dalam karya sastra. Bahkan, unsur-unsur tersebut merupakan unsur paling esensial yang perlu digarap dengan catatan tanpa meninggalkan unsur estetikanya. Jika sebuah tulisan hanya mengumbar pepatah-petitih sosial, kepincangan-kepincangan sosial, tanpa diimbangi aspek estetika, namanya bukan karya sastra. Tulisan tersebut hanyalah sebuah laporan jurnalistik yang mengekspose kejadian-kejadian negatif yang tengah berlangsung di tengah masyarakat. Oleh sebab itu, kehadiran unsur-unsur tersebut bersama dengan proses penggarapan karya sastra.
Oleh karena itu, tulisan ini membahas permasalahan apakah puisi itu, apa sajakah unsur ekstrinsik dalam sebuah puisi, dan bagaimanakah hubungan unsur ekstrinsik tersebut dalam sebuah puisi. Berdasarkan penjelasan-penjelasan yang dibahas dalam tulisan ini diharapkan mampu memberikan jawaban atas pertanyaan mengenai puisi, unsur ekstrinsik puisi, dan analisis hubungan ekstrinsik dengan hasil karya sastra (puisi).
II. PEMBAHASAN
A.   Pengertian Puisi
Aminuddin (2000:134) menyatakan  bahwa,
Secara etimologi, istilah puisi berasal dari bahasa Yunani poeima ‘membuat’ atau poesis “pembuatan”, dan dalam bahasa Inggris disebut poem atau poetry. Puisi diartikan “membuat” dan “pembuatan” karena lewat puisi pada dasarnya seorang telah menciptakan dunia tersendiri, yang mungkin berisi pesan atau gambaran suasana-suasana tertentu, baik fisik maupun batiniah.

Pradopo (1995:3—7) mengutarakan bahwa puisi adalah struktur yang tersusun dari bermacam-macam unsur dan sarana-sarana kepuitisannya. Puisi itu mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan, yang merangsang imajinasi panca indera dalam susunan yang beirama.  
Sebagai salah satu genre sastra, puisi selain mengandung nilai-nilai kehidupan, sosialpsikologis, juga mengandung nilai kesejarahan. Oleh sebab itu, seringkali pembaca dapat menemukan unsur-unsur historis atau juga unsur pembangun puisi tersebut di luar unsur intrinsik yang kita ketahui selama ini.

B.   Unsur-Unsur Ekstrinsik Puisi
Unsur ekstrinsik ialah unsur yang membentuk karya sastra dari luar sastra itu sendiri. Suatu hal yang wajib  jika dalam karya sastra terdapat unsur-unsur ekstrinsik yang turut mewarnai karya sastra.  Hal tersebut disebabkan unsur -unsur ekstrinsik itulah yang menyebabkan karya sastra tidak mungkin terhindar dari amanat, tendensi, unsur mendidik, dan fatwa tentang makna kearifan hidup yang ingin disampaikan kepada pembaca (http://abdurrosyid.wordpress.com/2009/07/27/puisi-pengertian-dan-unsur-unsurnya/).



1. Menurut Fananie
Fananie (dikutip Subrata, 2001:77) mengungkapkan bahwa _unsur ekstrinsik adalah segala unsur luar yang melatarbelakangi penciptaan karya sastra. Ia merupakan milik subjektif pengarang yang dapatberupa kondisi _sosial, motivasi, tendensi yang mendorong dan mempengaruhi kepengarangan seseorang.
Faktor-faktor ekstrinsik itu dapat meliputi:
a. tradisi dan nilai-nilai,
b. struktur kehidupan sosial,
c. keyakinan dan pandangan hidup,
d. suasana politik,
e. lingkungan hidup,
f. agama, dan sebagainya.

2. Menurut Nyoman Thusthi Eddy
Nyoman Thusthi Eddy (1991: 69) menyatakan _faktor-faktor seperti:
a. sejarah,
b. sosiologi,
c. psikologi,
d. politik, ekonomi, dan _lain-lain.

3. Menurut Wellek & Warren
Sejalan dengan dua pendapat di atas, Wellek & Warren (dalam Waluyo, 1994:64) menyatakan:
a. biografi pengarang,
b. psikologi (proses kreatif),
c. sosiologis  (kemasyarakatan)sosial budaya masyarakat, seperti:
     1) aspek-aspek seperti profesi/ institusi, problem hubungan sosial, adat-istiadat, dan antarhubungan masyarakat,
     2)  hubungan historis,
     3)  hubungan sastra dengan _faktor sosial, yakni menganggap sastra sebagai dokumen sosial.
     4) filosofis (aliran filsafat pengarang) termasuk pada struktur ekstrinsik karya sastra. http://mbahbrata.wordpress.com/2009/06/30/unsur-unsur-pembangun sastra/).

4.    Menurut Aminuddin
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, di bawah ini terdapat penjelasan dari Aminuddin (2000:184) mengenai unsur ekstrinsik yang mencakup keseluruhan dari pendapat di atas.

 



\\\












Kehidupan pengarang
 


Aliran yang dianuti
 


Konvensi yang melatari
 

 






 

                       
a. Peristiwa Kesejarahan
Dalam mengapresiasikan sebuah puisi, peristiwa kesejarahan membahas mengenai:
1)      peristiwa yang melatarbelakangi terwujudnya karya sastra: puisi dapat mengambil gagasan atau pokok pikiran tentang masalah kehidupan suatu negara, suatu bangsa dan masalah politik pada suatu masa tertentu.
2)      memahami perkembangan karya sastra suatu zaman.


b. Kehidupan Pengarang
Pembicaraan mengenai biografi pengarang sebenarnya bertujuan untuk mengembangkan kemampuan apresiasi terhadap karya sastra. Selain itu, pengenalan terhadap pengarang berperan dalam memperlancar upaya pemahaman gagasan yang terdapat dalam puisi yang diciptakannya.

c.  Aliran yang Dianuti
Masing-masing zaman kelahiran puisi akan mempengaruhi penciptaan puisi. misalnya, puisi-puisi dari sastrawan Angkatan Pujangga Baru umumnya dikenal impresionalistis karena puisi yang diciptakan merupakan cermin atau potret dari objek penciptaan. Selain itu, Angkatan Pujangga Baru juga dikenal bersifat romantik. Mereka lebih mengutamakan kedalaman rasa.

d. Konvensi yang Melatari
Pandangan dari sastrawan-sastrawan bahwa puisi harus mampu berkomunikasi dengan pembacanya. Puisi tidah hanya dapat dinikmati oleh penyairnya saja, tetapi juga oleh penikmat sastra yang membacanya. Pandangan tersebut berpengaruh dalam kreasi yang melatarbelakangi penciptaan sebuah puisi.

C. Contoh Analisis Ekstrinsik Puisi
1.  Biografi Singkat Chairil Anwar
Chairil Anwar dilahirkan di Medan pada 26 Juli 1922. Dia merupakan anak tunggal dari pasangan Toeloes dan Saleha. Ayahnya bekerja sebagai pamongpraja. Ibunya masih mrmpunyai pertalian keluarga dengan Sutan Sjahrir, Perdana Menteri pertama Indonesia. Chairil dibesarkan dalam keluarga yang berantakan. Kedua orang tuanya bercerai dan ayahnya menikah lagi dengan wanita lain. Setelah perceraian itu, Chairil mengikuti ibunya merantau ke Jakarta. Saat itu, ia baru lulus SMA.
Chairil masuk Hollands Inlandsche School (HIS), sekolah dasar untuk orang-orang pribumi waktu penjajah Belanda. Dia kemudian meneruskan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, sekolah menengah pertama Belanda, tetapi dia keluar sebelum lulus. Dia mulai untuk menulis sebagai seorang remaja, namun tak satu pun puisi awalnya yang ditemukan. Meskipun pendidikannya tak selesai, Chairil menguasai bahasa Inggris, bahasa Belanda dan bahasa Jerman. Ia mengisi waktu luangnya dengan membaca buku-buku dari pengarang internasional ternama, seperti Rainer M. Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, H. Marsman, J. Slaurhoff dan Edgar du Perron. Penulis-penulis ini sangat mempengaruhi tulisannya dan secara tidak langsung mempengaruhi puisi tatanan kesusasteraan Indonesia.
Semasa kecil di Medan, Chairil sangat dekat dengan neneknya. Keakraban ini memberikan kesan lebih pada hidup Chairil. Dalam hidupnya yang jarang berduka, salah satu kepedihan terhebat adalah saat neneknya meninggal dunia. Chairil melukiskan kedukaan itu dalam sajak yang pedih sebagaimana yang tertulis dalam kutipan (1).
(1) Bukan kematian benar yang menusuk kalbu/ Keridlaanmu menerima segala tiba/ Tak kutahu setinggi itu atas debu/ Dan duka maha tuan bertahta
Sesudah nenek, ibu adalah wanita kedua yang paling Chairil sayangi. Dia bahkan terbiasa menyebut nama ayahnya, Tulus, di depan sang Ibu. Hal itu ia lakukan sebagai tanda bahwa ia yang mendampingi nasib ibunya. Di depan ibunya juga, Chairil sering kali kehilangan sisi liarnya. Beberapa puisi Chairil juga menunjukkan kecintaannya pada ibunya.
Chairil Anwar mulai memiliki perhatian terhadap kesusasteraan sejak sekolah dasar. Di masa itu, ia sudah menulis beberapa sajak yang memiliki corak Pujangga Baru, namun ia tidak menyukai sajak-sajak tersebut dan membuangnya. Begitulah pengakuan Chairil Anwar kepada kritikus sastra HB. Jassin. Seperti yang ditulis oleh Jassin sendiri dalam Chairil  Anwar Pelopor Angkatan 45.
Sejak kecil, semangat Chairil terkenal kegigihannya. Seorang teman dekatnya, Sjamsul Ridwan, pernah membuat suatu tulisan tentang kehidupan Chairil Anwar ketika semasa kecil. Menurut dia, salah satu sifat Chairil pada masa kanak-kanaknya ialah pantang dikalahkan, baik pantang kalah dalam suatu persaingan, maupun dalam mendapatkan keinginan hatinya. Keinginan dan hasrat untuk mendapatkan itulah yang menyebabkan jiwanya selalu meluap-luap, menyala-nyala, boleh dikatakan tidak pernah diam.
Jassin juga pernah bercerita tentang salah satu sifat sahabatnya tersebut, “Kami pernah bermain bulu tangkis bersama, dan dia kalah. Tapi dia tak mengakui kekalahannya, dan mengajak bertanding terus. Akhirnya saya kalah. Semua itu kerana kami bertanding di depan para gadis”.
Wanita adalah dunia Chairil sesudah buku. Tercatat nama Ida, Sri Ayati, Gadis Rasyid, Mirat, dan Roosmeini sebagai gadis yang dikejar-kejar Chairil. Semua nama gadis itu masuk ke dalam puisi-puisi Chairil. Hapsah adalah gadis biasa yang menjadi pilihannya untuk menemani hidup dalam rumah tangga. Pernikahan itu tak berumur panjang. Karena kesulitan ekonomi dan gaya hidup Chairil yang tak berubah, Hapsah meminta cerai. Saat itu, anaknya baru berumur tujuh bulan dan Chairil pun menjadi duda.
          Tak lama setelah itu, pukul 15.15 WIB, 28 April 1949, Chairil meninggal dunia. Ada beberapa versi tentang sakitnya, namun banyak pendapat yang mengatakan bahwa TBC kronis dan sipilislah yang menjadi penyebab kematiannya. Umur Chairil memang pendek, 27 tahun. Kependekan itu meninggalkan banyak hal bagi perkembangan kesusasteraan Indonesia. Malah dia menjadi contoh terbaik untuk sikap yang tidak bersungguh-sungguh di dalam menggeluti kesenian. Sikap inilah yang membuat anaknya, Evawani Chairil Anwar yang menjadi _ias_ies di bekasi harus meminta maaf saat mengenang kematian ayahnya di tahun 1999. Ia berkata, “Saya minta maaf, karena kini saya hidup di suatu dunia yang bertentangan dengan dunia Chairil Anwar”, (Haniey:2007).
Tak sedikit buku-buku karangan Chairil semasa hidupnya, buku-buku itu adalah sebagai berikut. Deru Campur Debu (1949), Kerikil Tajam dan yang Terampas dan yang Putus (1949), Tiga Menguak Takdir (1950, dengan Asrul Sani dan Rivai Apin), Aku Ini Binatang Jalang: koleksi sajak 1942-1949, diedit oleh Pamusuk Eneste, kata penutup oleh Sapardi Djoko Damono (1986), Derai-derai Cemara (1998), Pulanglah Dia Si Anak Hilang (1948), terjemahan karya Andre Gide Kena Gempur (1951), dan terjemahan karya John Steinbeck.
Selain itu, karya-karya Chairil juga banyak diterjemahkan ke dalam bahasa asing, antara lain bahasa Inggris, Jerman dan Spanyol. Terjemahan karya-karyanya di antaranya seperti Sharp gravel, Indonesian poems, oleh Donna M. Dickinson (Berkeley? California, 1960), Cuatro poemas indonesios [por] Amir Hamzah, Chairil Anwar, Walujati (Madrid: Palma de Mallorca, 1962), Chairil Anwar: Selected Poems oleh Burton Raffel dan Nurdin Salam (New York, New Directions, 1963), Only Dust: Three Modern Indonesian Poets, oleh Ulli Beier (Port Moresby [New Guinea]: Papua Pocket Poets, 1969), The Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Burton Raffel (Albany, State University of New York Press, 1970), The Complete Poems of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Liaw Yock Fang, dengan bantuan H. B. Jassin (Singapore: University Education Press, 1974), Feuer und Asche: sämtliche Gedichte, Indonesisch/Deutsch oleh Walter Karwath (Wina: Octopus Verlag, 1978), dan The Voice of the Night: Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, oleh Burton Raffel (Athens, Ohio: Ohio University, Center for International Studies, 1993). (http://zieper.multiply.com/journal/item/40/Unsur_Ekstrinsik_dalam_Puisi_Aku)

2. Unsur Ekstrinsik dalam Puisi Aku
AKU
Chairil Anwar
                       
                        Kalau sampai waktuku
                        ‘Kumau tak seorang kan merayu
                        Tidak juga kau
                       
                        Tak perlu sedu sedan itu

                        Aku ini binatang jalang
                        Dari kumpulannya terbuang

                        Biar peluru menembus kulitku
                        Aku tetap meradang menerjang

                        Luka danbisa kubawa berlari
                        Berlari
                        Hingga hilang pedih perih

                        Dan aku akan lebih tidak peduli
                        Aku mau hidup seribu tahun lagi
                                                                                   

Chairil Anwar mulai banyak dikenal oleh masyarakat dari puisinya yang paling terkenal berjudul Semangat yang kemudian berubah judul menjadi Aku. Puisi yang ia tulis pada bulan Maret tahun 1943 ini banyak menyita perhatian masyarakat dalam dunia sastra. Dengan bahasa yang lugas, Chairil berani memunculkan suatu karya yang belum pernah ada sebelumnya. Pada saat itu, puisi tersebut mendapat banyak kecaman dari publik karena dianggap tidak sesuai sebagaimana puisi-puisi lain pada zaman itu
Puisi yang sebelumnya berjudul Semangat ini terdapat dua versi yang berbeda. Terdapat sedikit perubahan lirik pada puisi tersebut. Kata ‘ku mau’ berubah menjadi ‘kutahu’. Pada kata ‘hingga hilang pedih peri’, menjadi ‘hingga hilang pedih dan peri’. Kedua versi tersebut terdapat pada kumpulan sajak Chairil yang berbeda, yaitu versi Deru Campur Debu, dan Kerikil Tajam. Keduanya adalah nama kumpulan Chairil sendiri, dibuat pada bulan dan tahun yang sama. Mungkin Chairil perlu uang, maka sajaknya itu dimuat dua kali, agar dapat dua honor (Aidit:1999).
Penjelajahan Chairil Anwar berpusar pada pencariannya akan corak bahasa ucap yang baru, yang lebih ‘berbunyi’ daripada corak bahasa ucap Pujangga Baru. Chairil Anwar pernah menuliskan betapa ia betul-betul menghargai salah seorang penyair Pujangga Baru, Amir Hamzah, yang telah  mampu mendobrak bahasa ucap penyair-penyair sebelumnya. Idiom ‘binatang jalang’ yang digunakan dalam sajak tersebut pun sungguh suatu  pendobrakan akan tradisi bahasa ucap Pujangga Baru yang masih cenderung mendayu-dayu.  
Secara makna, puisi Aku tidak menggunakan kata-kata yang terlalu sulit untuk dimaknai, bukan berarti dengan kata-kata tersebut lantas menurunkan kualitas dari puisi ini. Sesuai dengan judul sebelumnya, puisi tersebut menggambarkan tentang semangat dan tak mau mengalah, seperti Chairil sendiri.
Pada lirik pertama, chairil berbicara masalah waktu seperti pada kutipan (1).

(1) Kalau sampai waktuku
Waktu yang dimaksud dalam kutipan (1) adalah sampaian dari waktu atau sebuah tujuan yang dibatasi oleh waktu. Seperti yang telah tertulis di atas, bahwa Chairil adalah penyair yang sedang dalam pencarian bahasa ucap yang mampu memenuhi luapan ekspresinya sesuai dengan yang diinginkannya, tanpa harus memperdulikan bahasa ucap dari penyair lain saat itu. Chairil juga memberikan awalan kata ‘kalau’ yang berarti sebuah pengandaian. Jadi, Charil berandai-andai tentang suatu masa saat ia sampai pada apa yang ia cari selama ini, yaitu penemuan bahasa ucap yang berbeda dengan ditandai keluarnya puisi tersebut.

 (2) ‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Pada kutipan (2) inilah watak Charil sangat tampak mewarnai sajaknya. Ia tahu bahwa dengan menuliskan puisi Aku ini akan memunculkan banyak protes dari berbagai kalangan, terutama dari kalangan penyair. Memang dasar sifat Chairil, ia tak menanggapi pembuicaraan orang tentang karyanya ini, karena memang inilah yang dicariny selama ini. Bahkan ketidakpeduliannya itu lebih dipertegas pada lirik selanjutnya pada kutipan (3).


 (3) Tidak juga kau
Kau yang dimaksud dalam kutipan (3) adalah pembaca atau penyimak dari puisi ini. Ini menunjukkan betapa tidak pedulinya Chairil dengan semua orang yang pernah mendengar atau pun membaca puisi tersebut, entah itu baik, atau pun buruk.
Berbicara tentang baik dan buruk, bait selanjutnya akan berbicara tentang nilai baik atau buruk dan masih tentang ketidakpedulian Chairil atas keduanya.

(4) Tidak perlu sedu sedan itu
      Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Zaini, salah seorang Sahabat Chairil pernah bercerita, bahwa ia pernah mencuri baju Chairil dan menjualnnya. Ketika Chairil mengetahui perbuatan sahabatnya itu, Chairil hanya berkata, “Mengapa aku begitu bodoh sampai _ias tertipu oleh kau”. Ini menunjukkan suatu sikap hidup Chairil yang tidak mempersoalkan baik-buruknya suatu perbuatan, baik itu dari segi ketetetapan masyarakat, maupun agama. Menurut Chairil, yang perlu diperhatikan justru lemah atau kuatnya orang.
Dalam kutipan (4), ia menggunakan kata ‘binatang jalang’, karena ia ingin menggambar seolah seperti binatang yang hidup dengan bebas, sekenaknya sendiri, tanpa sedikitpun ada yang mengatur. Lebih tepatnya adalah binatang liar. Karena itulah ia ‘dari kumpulannya terbuang’. Dalam suatu kelompok pasti ada sebuah ikatan, ia ‘dari kumpulannya terbuang’ karena tidak ingin mengikut ikatan dan aturan dalam kumpulannya.

(5) Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
..

Peluru tak akan pernah lepas dari pelatuknya, yaitu pistol. Sebuah pistol seringkali digunakan untuk melukai sesuatu. Pada kutipan (5), bait tersebut tergambar bahwa Chairil sedang ‘diserang’ dengan adanya ‘peluru menembus kulit’, tetapi ia tidak mempedulikan peluru yang merobek kulitnya itu, ia berkata “Biar”. Meskipun dalam keadan diserang dan terluka, Chairil masih memberontak, ia ‘tetap meradang menerjang’ seperti binatang liar yang sedang diburu. Selain itu, lirik ini juga menunjukkan sikap Chairil yang tak mau mengalah.
Semua cacian dan berbagai pembicaraan tentang baik atau buruk yang tidak ia pedulikan dari sajak tersebut juga akan hilang, seperti yang ia tuliskan pada lirik selanjutnya.

(6) Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

Inilah yang menegaskan watak dari penyair atau pun dari puisi ini, suatu ketidakpedulian. Pada kutipan (6), bait ini seolah menjadi penutup dari puisi tersebut. Sebagaimana sebuah karya tulis, penutup terdiri atas kesimpulan dan harapan. Kesimpulannya adalah ‘Dan aku akan lebih tidak perduli’, ia tetap tidak mau peduli. Chairil berharap bahwa ia masih hidup seribu tahun lagi agar ia tetap bisa mencari-cari apa yang diinginkannya.
Disamping Chairil ingin menunjukkan ketidakpeduliannya kepada pembaca, dalam puisi ini juga terdapat pesan lain dari Chairil, bahwa manusia itu adalah makhluk yang tak pernah lepas dari salah. Oleh karena itu, janganlah memandang seseorang dari baik-buruknya saja, karena kedua hal itu pasti akan ditemui dalam setiap manusia. Selain itu, Chairil juga ingin menyampaikan agar pembaca tidak perlu ragu dalam berkarya. Berkaryalah dan biarkan orang lain menilainya, seperti apa pun bentuk penilaian itu.



III. PENUTUP
Puisi adalah suatu karya sastra yang dapat memberikan kesenangan atau hiburan kepada membaca. Penciptaan puisi tidak terlepas dari unsur pembangun yang mengikutsertakan unsur-unsur seperti: (1) peristiwa kesejarahan, (2) kehidupan pengarang, (3) aliran yang dianut, dan (4) konvensi yang melatari. Keempat unsur tersebut merupakan unsur ekstrinsik yang membentuk karya sastra dari luar sastra itu sendiri. Keempat unsur ini pula yang menjadi kunci pemahaman lebih terhadap apresiasi penciptaan sebuah puisi. Secara keseluruhan peristiwa kesejarahan, konvensi penciptaan atau aliran yang dianut serta biografi pengarang menjadi kunci pemahaman terhadap sebuah puisi.


DAFTAR PUSTAKA

Aminuddin. 2000. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Pradopo, Rachmat Djoko. 1995. Pengkajian Puisi: Analisis Strata Norma dan Analisis Struktural dan Semiotik. Yogyakarta: Gadjah Mada Univesity Press.

Subrata, Heru. 2009. Kajian Kesusastraan. http:/mbahbrata.wordpress.com/2009/06/30/unsur-unsur-pembangun-sastra/. Diunduh pada tanggal 25 Agustus 2010.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar